Tampilkan postingan dengan label ROMANSA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ROMANSA. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 29 September 2018

Mencari Jodoh itu tak perlu karena jodoh sudah ditentukan

Assalamualaikum Wr. Wb.

Semoga ketentraman dan Rahmat Allah S.W.T selalu menaungi kita semua, para pembaca dan saya sendiri tentunya.

Pada kesempatan kali ini, saya ingin menuliskan beberapa hal tentang menemukan jodoh, kenapa tidak saya katakan "mencari jodoh" melainkan "menemukan jodoh"? Karena bagi kepercayaan saya bahwa hidup mati rizki dan jodoh sebenarnya sudah ditentukan/dipastikan oleh Allah S.WT, yang kita perlukan adalah berusaha menemukan ketentuanNya. Dan tulisan saya kali ini adalah tentang point-point pemikiran saya tentang problematika yang terjadi dalam usaha kita untuk menemukannya. Baca sampai habis ya mblo... :p

Dan permasalahan menemukan jodoh pada tulisan ini saya spesifikasikan ke hubungan yang sah yaitu pernikahan, jadi kalo kalian hanya punya pacar, maka kalian masih tergolong orang yang masih punya masalah dalam menemukan jodoh. Tentu saja tulisan saya kali ini tidak 100% semata-mata atas dasar pemikiran saya yang tidak berdasar, hal-hal yang saya sampaikan berikut ini adalah hasil observasi dari teman-teman dan orang terdekat saya. Juga dari hasil explorasi pemahaman saya dari pendapat-pendapat seorang alim(seorang yang punya ilmu dalam hal agama dalam kepercayaan saya). Bukan bermaksud diskriminatif, namun memang pengetahuan saya ini didasarkan oleh beberapa ilmu yang didasari oleh prinsip-prinsip agama dan kepercayaan saya.

Dalam tulisan saya kali ini, saya hanya akan membahas point-point tentang pemikiran logika, yang sifatnya moril. Sikap, karakteristik, pola pikir dan hal-hal yang memperngaruhi usaha menemukan jodoh secara pemikiran dan bukan secara materil. Jadi saya tidak membahas permasalahan menemukan jodoh ini dengan mengacu pada kaya miskin, ganteng cantik atau jelek, gendut langsing dan hal materil lainnya. Tentu saja hal-hal materil tersebut juga menjadi faktor yang cukup mempengaruhi proses menemukan jodoh, akan tetapi hal materil tersebut diluar kapasitas saya, karena pertama, saya melakukan observasi dan pemahaman secara filosofis. Dan kedua, seseorang yang cukup matang dalam hal materil pun kadang menemui masalah dalam hal menemukan jodoh. Jadi saya rasa menyampaikan pembahasan ini terasa lebih global, yaitu untuk yang sudah matang maupun yang belum matang.

*kok jadi formal gini ya tulisannya.. :D

Secara garis besar permasalahan ini pasti dialami oleh dua jenis manusia dalam dunia ini, yaitu pria dan wanita. *waria ga keitung bro?? saya tidak punya orang terdekat seorang waria, jadi kalo mau memasukan waria dalam tulisan ini, silahkan lakukan observasi sendiri. Yap, pria dan wanita, atau laki-laki dan perempuan adalah dua jenis manusia yang sah didunia ini dan mempunyai hak untuk saling berpasangan satu sama lain. Cukup disini ya pendahuluannya karena rasanya sudah terlalu panjang, kita langsung ke point-point problematikanya.
  • Niat dan tujuan adalah yang utama, andai kalian sadar ini. 
Yang pertama ini adalah tentang logika yang cenderung spiritual. Ada sebuah pernyataan bahwa "segala sesuatu itu tergantung niatnya". Saya pribadi menangkap pernyataan itu sebagai acuan untuk menilai sesuatu. Sejauh ini, niat dan tujuan adalah salah satu point yang saya rasa cukup berperan penting dalam keberhasilan seseorang untuk menemukan jodohnya. Bayangkan jika kamu ingin melakukan sesuatu yang baik, dan dengan niat yang baik pula, apakah mungkin Allah mempersulit kamu?? Niat yang saya maksud disini adalah niat untuk ibadah, yaitu menjalankan sunnah Rasulullah, Yakinkan hatimu bahwa niat yang baik akan membawa kebaikan pula. Jadi, buat pondasi mindset bahwa menemukan jodoh dan menyatukan 2 insan dalam ikatan pernikahan adalah ibadah, titik. Point penting pada paragraf ini adalah niat yang lain-lain itu sekunder, yang utama adalah ibadah. Yang saya temukan bahwa niat seseorang menemukan jodohnya itu bermacam-macam, saya tidak dapat menyebutkannya satu persatu hasil observasi saya disini. Bahkan percaya atau tidak, ada seseorang ingin menikah tapi entah dia punya tujuan atau tidak, ketika ditanya apa tujuannya ingin menikah, dia balik bertanya "bukankah memang manusia itu punya hak untuk menikah seperti orang lain pada umumnya" WHAT?? Kamu bernafas hanya untuk seperti orang lain??? ben koyo kancane, umpamane.



  • Kriteria adalah kesemuan. 
Boleh saja menentukan kriteria, tapi sebenarnya apalah arti kriteria jika dihadapan kalian sudah datang seseorang yang baik dan soleh/soleha. Jangan pernah berharap hidup ini akan seperti kisah cinta pada novel-novel percintaan. Tidak ada manusia yang sempurna, kamu menuntut kriteria A,B,C, lalu apakah kamu tidak akan menerima  D,E,F yang ada padanya.. Betul bahwa Rasulullah sendiri memberikan rekomendasi kriteria wanita kepada laki-laki untuk memilih wanita. Tapi bukan tentang tingginya, berat badannya, rambutnya, atau sosialitanya bahkan bukan sifatnya. Jika kamu meniatkannya untuk ibadah, tentulah kamu akan meminimalisir kriteria-kriteria tersebut. Kriteria adalah standar yang dibuat manusia, manusia adalah tempatnya salah. Jadi apakah kamu yakin kriteriamu itu bisa membawa kebahagiaan yang abadi untukmu? Romeo dan juliet pun jika saja mereka jadi bersatu, belum tentu rumah tangganya akan harmonis.



  • Usaha menemukan jodoh yang seperti apa?
Dalam hal usaha, seorang laki-laki cenderung mencari, dibanding wanita yang menunggu untuk dinikahi oleh seseorang. Lalu apakah yang harus berusaha hanya laki-laki saja? jawabannya tentu tidak. Kalian pernah dengar kisah pernikahan Nabi Muhammad s.a.w dengan Khadijah r.a?? Tentunya memang mereka sudah ditakdirkan akan menikah dengan Rasulullah, tapi saat khadijah r.a mulai kagum dengan sosok Muhammad s.a.w , apakah beliau hanya menunggu ? Memang Nabi muhammad lah yang menyatakan maksud untuk menikahi Khadijah r.a . Tapi yang perlu kita tahu adalah sebelum itu Khadijah r.a sudah menyuruh seseorang kerabat untuk datang kepada Nabi Muhammad s.a.w, dan membicarakan soal tawaran untuk menikahi seorang wanita yang sebenarnya wanita tersebut adalah Khadijah itu sendiri. Mendengar tawaran itu Rasulullah pun sempat ragu, " bagaimana aku sanggup menikahinya(Khadijah r.a) sedangkan dia sudah banyak menolak proa terhormat dikota ini" tapi sang kerabat meyakinkannya dengan mengatakan bahwa dia akan mengurus semuanya. Dari sepenggal kisah diatas, coba kita bayangkan jika Khadijah r.a tidak menyuruh kerabatnya untuk datang kepada Rasulullah s.a.w? Tentunya mungkin tak akan ada yang berani memulai karena Rasulullah pun bisa dikatakan minder karena Khadijah r.a telah banyak menolak lelaki.

Dari paragraf yang cukup panjang diatas pasti kamu sudah dapat menyimpulkan bahwa usaha menemukan jodoh bukan hanya untuk pria melainkan wanitapun harus berusaha juga. Dan kisah Rasulullah s.a.w dam Khadijah r.a diatas hanyalah sebuah contoh, jangan karena kisah tersebut lalu kalian para wanita langsung mengerahkan seluruh kerabat-kerabat kalian untuk mendatangi para lelaki. Usaha kalian bisa dalam bentuk apa saja, termasuk mendekatkan diri pada Allah S.W.T.



  • Memantaskan diri itu lebih dari sekedar image sosial media

Tidak bisa dipungkiri bahwa di jaman ini kita bisa mengenal seseorang di sosial media, bahkan lebih dari itu kita bisa mencari tahu latar belakang bahkan kepribadian seseorang melalui media sosial tersebut. Tapi tentu seseorang tidak akan menjadikan sosial media tolak ukur 100% dalam menilai seseorang. Maaf sebelumnya, bahkan ada beberapa orang menggunakan sosial media sebagai media untuk membangun image diri, kalau disebut pencitraan rasanya konotasinya terlalu negatif maka sebut saja membangun image diri. Jadi jika ada orang yang sudah baik, atau soleh/soleha disosial media, dia belum tentu mendapat penilaian baik dimata orang yang melihat profil dirinya melalui sosial media, atau bahkan mungkin bisa sebaliknya. Yang perlu disadari adalah orang yang benar-benar mencoba memantaskan diri tidak punya waktu untuk mengurusi penilaian dimata orang lain.
Untuk menemukan jodohmu, kamu tidak perlu menunjukan seberapa pantas dirimu kepada semua orang, berusahalah menjadi baik dengan niat yang baik dan percayalah pada ayat :

“ Wanita-wanita yang tidak baik untuk laki-laki yang tidak baik, dan laki-laki yang tidak baik adalah untuk wanita yang tidak baik pula. Wanita yang .baik untuk lelaki yang baik dan lelaki yang baik untuk wanita yang baik. (Qs. An Nur:26)

janganlah kalian menjadi seorang yang berkarakter di sosial media tapi dikehidupan nyata kalian bimbang akan diri kalian sendiri. Nampak baik di sosial media tidak akan menambah nilai dirimu kecuali untuk orang-orang yang hidupnya banyak berada disosial media dibanding dunia nyata.  




  • Kesiapan pun lebih dari sekedar kata siap
Banyak diantara orang-orang terdekat saya yang mengaku sudah siap namun tetap saja masih belum ada yang membuatkan kopi dipagi hari(untuk laki-laki) dan masih belum ada seseorang yang menunggu didepan pintu toko swalayan saat dia berbelanja(untuk wanita). kesiapan adalah bersedia menanggung resiko baik dan buruk untuk sebuah hal yang akan dia hadapi ketika menyatakan siap. Jadi jika ada yang bilang siap menikah tapi masih mempertimbangkan masalah bagaimana dengan ini, bagaimana dengan itu, maka sebenarnya dia belum siap. "Aku sudah siap, aku akan menikahimu setelah aku mendapatkan pekerjaan" kalimat ini akan lebih logis jika begini " setelah aku mendapatkan pekerjaan aku siap menikahimu " sedikit berbeda memang, tapi jika diperhatikan dua kalimat tersebut sebenarnya berbeda. Karena orang yang sudah siap tidak perlu menunggu apa-apa lagi kecuali dia hampir siap. " Aku siap kamu nikahi, tapi tunggu aku lulus S2 ya.." bro, kalo kata dian sastro pendidikan itu penting untuk wanita karena ibu yang cerdas akan melahirkan anak-anak yang cerdas. Okelah kita setuju dengan itu. Tapi apakah itu satu-satunya faktor melahirkan anak-anak yang cerdas? Dan standar cerdas itu sendiri berbeda-beda untuk setiap orang, bahkan menurut saya predikat cerdas sudah menjadi standar gengsi di era ini. 

Hal-hal diatas adalah problematika-problematika yang dapat saya simpulkan sejauh ini, bukan bermaksud menggurui atau merasa lebih tau, hanya saya ingin menuliskan opini dari sebuah observasi yang belakangan ini saya terus amati. Tak ada solusi yang paling tepat kecuali mencoba menjadi lebih baik, menata management hati, pikiran, sikap, perilaku dan waktu. Kenapa saya tak menyebutkan ekonomi, penampilan diri atau hal fisik lainnya? karena seperti yang saya katakan sebelumnya bahasan ini adalah masalah non materil. Bagaimana menyusun mindset tentang niat, usaha, kondisi dan kesiapan.

Dari depan layar monitor saya ini saya akan mendoakan kalian agar diberikan yang terbaik dari yang paling baik untuk masing-masing kalian.

Assalamualaikum W.r Wb.
















Kamis, 20 September 2018

CERPEN - Pamitkan dengan tulisan II

Pamitkan dengan tulisan II

Lanjutan dari Pamitkan dengan tulisan


Aku tahu Aries pasti bertanya-tanya ketika aku mengatakan bahwa sejak dua bulan terakhir dan sampai saat ini aku sebutkan sebagai hal terberat yang kulalui. Bahkan selama tujuh tahun yang kulalui tak pernah aku sekacau ini. Kecemasanku terhadap diriku sendiri dan Aries, kebimbangan luar biasa dan kekacauan yang luar biasa dalam hati ku. Aku sedikitpun tak punya hati untuk melukai orang yang sudah menemaniku dan mengisi waktu-waktuku selama sembilan tahun dalam dekat maupun jauh. Sejak detik ini aku sangat ingin memandang Aries, tapi aku ragu, entah apa yang dia pikirkan sekarang, seperti apa expresi wajahnya, sungguh aku tak punya keberanian untuk menoleh ke arahnya, dia bahkan tak bersuara sedikitpun kecuali hembusan nafas panjangnya sesekali terdengar bagai angin berhembus yang menoyak dedaunan.

Suatu pagi di awal bulan Mei aku pertama kalinya mengelilingi ke perkebunan langsung menggunakan mobil milik perkebunan. Mobil double kabin yang besar, karena diameter rodanya yang kira-kira mencapai bahuku. Hari itu aku pertamakalinya menjalani tugas baruku yaitu sebagai staff pengawas perkebunan, sebut saja aku naik jabatan dari yang sebelumnya yaitu admin atau kerani orang disini menyebutnya. Sebagai staff pengawas anyar, aku harus belajar banyak tentang tugas-tugas baru. Tentu saja tidak sendiri, seorang asisten kepala ditugaskan membimbingku di awal training sebagai staff pengawas. Hasan, laki-laki yang usianya terpaut dua tahun diatasku,  kelahiran Semarang dan juga sudah enam tahun bekerja di perkebunan. Hanya saja dia datang kesini membawa gelar sarjana sehingga awal karirnya di perkebunan dia sudah menempati posisi atas dan kini menjadi asisten kepala.

Sampai disini aku tak tahu aku harus melanjutkan ceritaku atau aku harus menyampaikan tujuan utamaku, aku hanya khawatir Aries nantinya mengira aku mencari pembenaran atas semua yang terjadi. Sampai saat ini dia belum bersuara, dan aku pun tak punya nyali untuk menoleh kearahnya.
Kau harus tau Aries, semua yang terjadi ini sama sekali bukan kemauanku, dan bahkan aku pun tak mengiranya. Kedekatanku dengan Hasan hanya sebatas partner kerja, sebagai seorang wanita aku tahu bahwa dari awal kami bertemu, berkenalan, dan bekerja bersama, aku melihat gestur laki-laki yang sedang tertarik kepada wanita. Sesering apapun aku menolak ajakannya untuk sekedar makan siang berdua, dia tetap dengan sopan menawarkan hal-hal kecil sperti minuman atau makanan ringan saat kami dalam jeda pekerjaan. Aku tahu dia laki-laki yang lembut, baik, sopan, namun aku tak ingin membuka hati untuknya karena aku tahu bahwa hatiku ini milik Aries, yang saat itu sedang jauh dariku.

Belum sebuah suarapun kudengar dari Aries yang kini ada disebelahku. Aku tak ingin membuat Aries bertanya-tanya lebih lama lagi, aku ingin dia mengetahui semuanya dengan segala resikonya. Tak sampai hati aku mengatakannya, namun kejujuran merupakan prinsip untukku, mungkin seperti yang sudah Aries duga, atau bahkan sebaliknya. Beberapa minggu dalam masa training sebagai staff pengawas, sekuat apapun aku mengunci pintu hatiku, waktu-waktu yang kulewati dengan Hasan seolah mengikis pintu yang aku kunci rapat. Hasan seolah merebut hatiku, aku tak tahu bagaimana ini semua bisa terjadi. Bahkan dua bulan yang lalu, hari dimana dia menyatakan perasaannya kepadaku dan mengatakan bahwa dia ingin menikahiku, aku hanya diam dan tak memberi jawaban kepadanya. Betapa aku tak bisa menolaknya, walaupun aku juga tidak mengatakan iya. Jangankan untuk memberi Hasan jawaban, aku sendiri pun tak mampu menjawab pertanyaan-pertanyan dari diriku sendiri.

"Ay, aku mau keluar dulu ya beli rokok" 

Bagaikan disambar petir aku mendengarnya, tiba-tiba Aries berbicara.

Dia sudah sempat berdiri dan membalikkan badan, kutarik bagian belakang kaosnya dan mencoba menahan kepergiannya.

"nanti aja ay ngerokoknya" 

Dia mengangguk dengan expresi datar dan duduk kembali, aku tak berani menatap wajahnya dengan lama, dalam dialog singkat tadi aku hanya sekali mencuri kesempatan melihat expresinya. Aku tahu dia mencoba tenang, walau aku melihat ketidak nyamanan yang luar biasa terpancar diwajahnya. Tak ada isyarat yang mencolok, tapi aku sangat yakin dia sedang dalam keadaan yang sangat kacau. Tak sanggup rasanya meneruskan, tapi aku tak mau membuat Aries dalam keadaan ini lebih lama lagi.
Aries harus tau segala kondisinya, dan akupun siap atas segala resikonya. Aku merasa menjadi orang yang paling jahat yang pernah ada dimuka bumi ini karena membuat Aries harus membaca apa yang sangat tidak ingin dia baca. Seandainya Aries ingin memaki-maki aku pada saat ini, rasanya sangat wajar dan akupun akan lebih dari sekedar rela jika itu memang ingin dilakukannya.

Tapi harus Aries tahu, sampai detik ini aku belum sekalipun mengatakan kepada hasan bahwa aku bersedia menikah dengannya. Bukan untuk mendapatkan predikat setia atau sekedar untuk mengulur waktu sampai Aries tahu. Tapi aku masih ingin berjuang untuk menjaga sembilan tahun waktu yang kujalani bersama Aries. Aku masih ingin apa yang terjadi saat ini hanyalah mimpi, aku tak ingin mengacaukan semua rencana-rencana kami, aku masing ingin melanjutkan perjuangan sembilan tahun bersama Aries, aku ingin menjalani tahun kesepuluh bersamanya, dan tahun-tahun setelahnya.
Aku masih sangat menghargai kebersamaan kami dari awal, sampai hari ini.

Namun rasanya tak mungkin karena pada kenyataannya saat bersamaan dengan cutiku beberapa hari lalu, Hasan ternyata datang kerumahku dan dengan terang-terangan mengutarakan maksudnya kepada orang tuaku. Rasanya singkat sekali, padahal selama dua hari setelah kedatangan Hasan, keluargaku mengadakan perundingan bahkan sampai keluarga besar, hampir semua keluarga besarku ingin kami menerima lamaran hasan, hanya sebagian kecil saja yang tidak berpendapat. Ayahku tampak tidak ingin mengecewakan keluarga besar, dan ibuku salah satu orang yang kenal dan cukup dekat dengan Aries hanya diam dan terlihat muram, tersirat kebingungan dimatanya yang sayu di sepanjang perundingan. Dan keputusan untuk menerima Hasan sebagai calon menantu ayahku adalah hasil final perundingan keluarga besarku. Entah perasaan seperti apa yang harus kugambarkan, rasanya tak ada lagi perumpamaan yang tepat.

Tak seberapa terasa air mata yang dari tadi sudah bercucuran ini, dibanding dengan hatiku yang entah sedang merasakan apa sehingga sesaknya sangat terasa. Maafkan aku, aku menoleh ke Aries, aku melihat dia sedang menunduk sembari menutup hidung dan mulutdengan punggung pergelangan tangannya. Dahinya berkerut, matanya terlihat sayu dan kelopaknya yang nampak berat, namun bola matanya yang seolah kebingungan kemana harus memandang mengisyaratkan bahwa dia tak percaya dengan apa yang sedang terjadi. Kali ini aku cukup lama memandangi Aries, sampai pada akhirnya dia sadar aku sedang memperhatikannya. Dia terbatuk ringan, menatap kearahku dengan mata yang berkaca-kaca, kemudian berdiri sambil memakai jaketnya. Sebelum mencoba mengatakan sesuatu dia nampak beberapa kali mengirup nafas panjang, aku hanya mampu sesekali menatap wajahnya dengan air mata yang terus mengalir. Aries mengatakan dia ingin mengatakan sesuatu dan ingin aku menyertakan nya didalam tulisanku, aku mengangguk menurutinya dan bersiap mengetik apa yang akan dia katakan.


" Jangan mengasihaniku lebih jauh lagi, aku tak ingin siapapun yang membaca tulisanmu ini ikut mengasihiniku karena terbawa oleh kalimat-kalimat dramamu yang menempatkanku pada sosok yang sedang hancur berantakan karena kekasihnya akan menjadi milik orang lain. Memang tak bisa dipungkiri aku memang hancur, aku juga berantakan, bahkan mungkin lebih dari itu. Jika harus mengumpamakan, aku rasa seperti tertimpa runtuhan langit dihari yang cerah, atau terkubur dalam tanah longsor pada saat kemarau, sungguh tak ada yang mengira. Tapi aku tak ingin hidupku sebencana itu, aku masih tetap akan menjalani hidupku, begitupun denganmu. Aku tak tahu akan sampai beberapa lama lagi akan mencintaimu, kuharap tak lama lagi. Mungkin setelah aku pulang dari sini, atau seminggu kemudian, atau lebih lama lagi sampai kalian melaksanakan pernikahan, atau bahkan selamanya aku aku akan tetap mencintaimu pun aku tak tahu. "

Semuanya cukup jelas ay, kamu ga salah. Ini hanya persoalan waktu yang memang kadang harus terbuang sia, sia. Kamu harus bahagia sama Hasan, Aku belum mengenalnya, tapi dari ceritamu aku tahu dia orang yang baik, orang yang tepat untukmu, lebih siap secara apapun dibanding aku.
Hanya satu permintaan terakhirku sebelum aku pulang, Bahagialah !!! "

" Oh ya, kolom judul tulisan ini masih kosong, bagaimana kalau diberi judul 
" Pamitkan dengan tulisan "



Aku pamit ay, salam ya buat ibuk.. Assalamualaikum...

Jumat, 14 September 2018

CERPEN - Pamitkan dengan tulisan

By, Pandhu Nganjokes


SORE HARI 2 SEPTEMBER 2018

Namaku Vani, 26 tahun wanita asal Kediri, aku kerja di Sumatra sebagai admin perkebunan sekaligus perusahaan pengolahan karet. Kebetulan aku sedang pulang ke Kediri karena libur idul adha ditambah cuti akumulatif yang aku ambil. Hari ini aku ingin menceritakan kisah cintaku bersamanya. Menulis disampingnya, iya dia yang sekarang ada disebelahku. Aries, pacarku yang hari ini berjanji datang untuk menemaniku menulis. Seorang yang cukup tinggi berambut ikal dengan senyum khas yang membuatku mudah membayangkan wajahnya saat sedang berjauhan. Dia sudah datang dan ada disebelahku sebelum aku menyalakan laptopku, sempat aku buatkan secangkir kopi untuknya yang cangkirnya sekarang masih terlihat penuh, aku yakin bukan karena rasanya tak enak, tapi aku tahu dia lelaki yang santai dan tak terburu-buru.

Aries adalah kakak kelasku semasa SMA, kami sudah sembilan tahun berpacaran, kedekatan kami sudah sampai pada saling kenal dan akrabnya Aries dengan keluargaku dan juga sebaliknya.  Dan jika ada pertanyaan kenapa diusia yang sudah matang ini kami belum menikah, mungkin akan kalian temukan jawabannya pada tulisanku kali ini.

Berada disampingku saat menulis tentu dia bisa membaca apa yang aku tuliskan saat ini, dari expresinya saat ini yang senyum-senyum sendiri , aku tak tahu dia tersinggung dengan paragraf sebelumnya tentang belum menikah tadi atau karena dia geli membaca tulisanku yang acakadul. 

"Kenapa senyum-senyum ay??" tanyaku.

"Nggak, cuma jadi sadar aja kalo emang kita ini pasangan molor ay,, hahaha" ucapnya..

banyak obrolan dan candaan kecil berlangsung diantara kami disela-sela aku menulis. Kuawali ceritaku saat pertama kali dia menyatakan perasaannya padaku tahun 2009 lalu. Saat itu aku masih kelas XII dan dia baru saja lulus, tepatnya 15 Juni 2009.

"ciee masih inget tanggal jadian" komentarnya membaca tulisanku.

Aries adalah seorang seniman, dia lulusan ISI Jogja, sebuah perguruan tinggi jurusan seni di Yogyakarta. Dia musisi, punya band dan sering jadi Event organizer acara-acara musik. Dia orang yang sangat asyk buatku, selalu ada hal-hal menarik yang dia tumbuhkan diantara kami. Itu alasannya kami sanggup menjalin hubungan LDR selama tujuh tahun, karena aku mulai bekerja di luar Jawa pada tahun 2011.

"Jangan GR ya ay, ini cuma biar pembaca tertarik dengan hubungan kita yang beda passion ini"
kataku sambil meledeknya.

Canda-tawa kecil dan beberapa obrolan kami yang tercipta membuat aku terhenti menulis untuk sesaat. Keceriaanku hari ini hampir membuatku lupa tujuan utamaku menulis disampingnya.

"Tujuan utama???" tanyanya dengan heran.

Aku hanya tersenyum ringan dan menggodanya dengan kerlingan mataku menanggapi pertanyaannya, aku tahu bahwa dia tahu maksudku bahwa aku ingin dia tahu sendiri dengan membacanya. Dengan wajah yang bingung dan bercampur heran dia mengeluarkan telapak tangannya seakan mempersilahkan aku melanjutkan tulisanku.

Sekilas tak terasa 9 tahun hubungan kami dan tujuh tahun hubungan jarak jauh tahun didalamnya kami lalui sampai detik ini. Namun jika diingat, betapa tidak mudahnya melalui waktu tersebut. Tentu kalian tahu tidak mudah menjalani hubungan jarak jauh, kami hanya bertemu mungkin sekitar 2 atau tiga hari 3 bulan sekali, itupun belum pasti. Pertengkaran kecil yang terjadi berkali-kali hingga masalah perselingkuhan pernah kami lewati.

"Nah kan.. dibahas lagi.. kan katanya udah dimaafin"  dia menyela ketika membaca tulisanku.

"Lho.. kan aku cuma mau nulis aja ay,, bukan berarti aku masih marah kan??"


"Hmmm... awas ya nanti kalo mulai sewot-sewot gara-gara bahas itu" ancamnya.


"Nggak kok ay,, kamu tenang ya,, beneran cuma pengen nulis, ga ada sewot-sewot atau marah-marahan lagi. Suueeeerrr dehhh" kataku meyakinkannya.


Memang, rintangan terhebat yang pernah kami alami adalah ketika dia terpikat dengan vocalis band bentukan nya di tahun 2016 lalu. Aku tidak mau menyebutkan nama wanita itu ditulisan ini bukan karena aku membenci atau dendam kepadanya. Hanya saja aku rasa menyebutkan namanya ditulisan ini akan membuatnya tidak nyaman atau bahkan hal yang lebih buruk. Waktu itu Aries baru saja lulus dari kuliahnya dan mulai mengurusi beberapa event. Setauku band bentukannya itu akan mengisi acara di Surabaya, semacam event club mobil disurabaya.

Aku tidak tahu jalan ceritanya sebelum mencari tahu dari orang-orang terdekan di EO Aries dan pada akhirnya ariespun menceritakannya dan mengakui semuanya. Waktu itu harga karet sedang naik turun dan aku tidak pulang sudah ada 6 bulan, jarang menghubungiku tidak membuatku curiga kepada
Aries. Karena aku pun begitu sibuk dengan pekerjaanku,  hasil produksi yang menumpuk digudang, dan data hasil panen menumpuk yang menunggu untuk dilaporkan pemilahan kualitasnya membuatku cukup sibuk waktu itu.

Dari sosial media aku tahu dia sedang mempersiapkan sebuah acara, postingan dari team EO nya juga dari poster yang ada foto Aries bersama band bentukannya. Tak biasanya dia tak bercerita kalau ada event yang cukup besar seperti itu, saat kami sedang kontak melalu chating atau telfon aku menanyakannya dan jawabannya hanya datar-datar saja.Normal bagi wanita untuk mencari tahu apa yang sedang dilakukan pacarnya saat sedang berjauhan. Di waktu pulang kerja , kegiatanku hanya stalking tentang kegiatannya.

Saat menemukan foto unggahan foto berdua Aries dan vocalis wanita tersebut barulah hati ini terasa tersengat duri kecil yang efeknya terasa di paru-paru yang membuat nafasku beberapa kali tersendat.

"Ah, ga seru nih ay.." dia menyela tulisanku.

"Sssttt.. ay ganteng.. please, aku kan jarang-jarang nulis ditemenin kamu, kali ini aja aku mohon biar aku nulis apa yang ingin ku tulis. aku kan udah janji ga akan sewot atau marah lagi" bisik ku pelan meyakinkan dia untuk kedua kalinya.

Suasananya memang tak seperti tadi, tidak banyak obrolan atau candaan seperti awal aku menulis tadi. Kini aku hanya memandang layar laptopku sambil sesekali melihat kearah luar balkon rumahku, juga beberapa kali aku menoleh untuk melihat expresi Aries yang berada disampingku. Dia tampak tetap tenang walopun raut wajahnya tak secerah tadi. Aku tak tahu apa yang aku tunggu untuk melanjutkan ceritaku tadi, hanya saat mengingat bagaimana rasanya saat itu, seperti aku berada diwaktu itu, aku mulai menghirup nafas panjang dan mencoba tetap relax.

Saat pertama melihat foto mereka berdua entah kenapa rasanya begitu terkoyak seluruh tubuhku, dan bahkan aku tahu kalau foto mereka itu tak cukup mesra untuk dicemburui. Mereka hanya foto berdua dengan pose tertawa, aku hanya menangkap keceriaan yang cukup luar biasa di raut wajah mereka pada foto tersebut. Mungkin saja ini yang dinamakan firasat, rasa curiga yang resah yang luar biasa membuat mulutku terkatup rapat kala itu, membuat nafasku tersengal-sengal dan mempercepat temponya. Aku mencoba tetap tenang dan berfikiran positif, aku mencoba meyakinkan diriku bahwa Aries memang orang yang bersahabat, mudah diterima dan akrab dengan siapa saja, jadi tidak ada yang aneh dengan foto mereka itu. Toh mereka juga dalam 1 proyek event yang sama atau bisa dibilang partner kerja. Namun semakin aku meyakinkan diriku, semakin aku tidak yakin dan tetap saja rasa ingin tahu terus muncul.

Selama beberapa hari mencari tahu di sosial media dan bencoba mencari tahu dari orang-orang terdekatnya , membuka dan memfollow akun2 sosmed yang aku rasa ada kaitannya dengan mereka atau event yang akan digarap Aries. Aku selalu mencoba bersikap biasa saat kontak dengannya, walau memang jarang kontak akhir-akhir ini, aku terus mencari tahu tanpa ingin dia tahu aku mencurigainya. Sekitar seminggu setelah event itu selesai rasa ingin tahu ku terjawab, walau hasilnya buruk untuk diriku. Hasil yang kudapat sudah menjadi bukti yang mencukupi bahwa aku telah terhianati waktu itu. Ku sebut bukti karena bukan hanya berita secara lisan atau hanya kabar yang kudapat, melainkan beberapa foto dan video.

Foto yang menunjukan liburan berdua mereka disebuah pantai, betapa indahnya langit jingga dan matahari terbenam di sebuah pantai dan siluet dua pohon kelapa menjadi background foto mesra mereka. Aku merasa jiwaku yang semula seperti gunung yang nyaris meletus dan siap memuntahkan magma panas bercampur belerang, seketika menjadi langit mendung gelap yang ingin segera meruntuhkan diri menjadi hujan.Waktu pertama melihat foto itu aku merasa tidak sadarkan diri untuk beberapa saat, setelah aku sadar kembali sekuat tenaga aku mencoba berpikiran positif. Aku mencoba berkata pada diriku sendiri bahwa bukan Aries yang ada dalam foto itu, foto itu bisa saja di edit, foto itu hanya sebuah adegan untuk kepentingan proyek yang digarapnya.

Sayang sekali aku tidak berhasil meyakinkan diriku sendiri, foto itu benar-benar Aries kekasihku yang bertahun-tahun mencintaiku dengan tulus dan sepenuh hati, yang menjanjikan cintanya hanya untukku. Kebenaran itu semakin nyata setelah aku melihat beberapa foto lainnya yang seolah menceritakan betapa seru dan indahnya liburan mereka, makan berdua, melihat bintang saat malam hari, selfie mereka dengan muka jelek, bahkan  video ketika Aries memainkan keyboard di sebuah cafe dan wanita itu menyanyikan lagu cinta yang sangat indah untuknya. Aku mulai membayangkan betapa romantisnya suasana malam itu untuk mereka, aku sangat iri, aku benar benar iri sampai tanpa aku sadari rasa iri itu membuat air mataku bercucuran membasahi hampir seluruh bagian pipi dan menetes lewat daguku.

Aku begitu asik menceritakan ini sampai aku mengacuhkan Aries yang ada disampingku dan beberapa kali berusaha menghentikanku menulis. Kali ini aku lihat raut wajah yang aneh, aku tak bisa membaca expresinya, tidak nampak senang, namun tidak juga sedih ataupun marah, kalau dibilang biasa-biasa saja juga tidak bisa karena wajahnya tampak sedikit merah dan sesekali nampak beberapa garis kerutan di dahinya. Dan aku sendiri pun tak tahu bagaimana menjelaskan perasaanku, aku tidak marah ataupun sedih karena aku sudah benar-benar melupakan kejadian itu, karena aku pun sudah benar-benar memaafkannya. Membaca kalimatku ini dia sepertinya sedikit agak tenang dibandingkan beberapa saat tadi.

"sudah dong ay bahas masa lalunya, jadi tujuan utama nya apa??" tanya nya.

"iya-iya ay, emang sudah selesai kok"


"bukan apa-apa ay, cuma ga pengen bikin kamu sedih kalo ingat waktu itu" katanya sambil terlihat lega.


"tapi ay, aku pengen kamu janji" kataku sebelum melanjutkan menulis.


"janji apa ay?"


"setelah ini, biarkan aku menulis, kamu boleh membacanya tapi jangan ngomong dulu sama aku sampai aku selesai. Kalo kamu ngomong aku ga akan jawab."


"hmmmm, kenapa? tapi boleh deh, bukan sesuatu hal yang berat" jawabannya atas pintaku.

Aku hanya tersenyum mendengar jawabannya dan memulai lagi melanjutkan tulisanku. Rasanya sudah cukup aku membahas masalah yang sudah berlalu itu, kini saatnya membahas hubunganku dengan Aries saat ini dan untuk kedepannya. Mungkin 9 tahun mempunyai hubungan kekasih menurut banyak orang itu waktu yang cukup lama, atau bahkan sangat lama. Bahkan banyak dari teman, saudara terdekat kami sering mempertanyakan soal bagaimana kedepannya hubungan kami ini. Rasanya aku sudah mulai bosan dengan pertanyaan-pertanyaan semacam itu, tapi bagamiana dengan Aries, aku tidak tahu. Sempat kulihat wajahnya dia tersenyum sebelum dia akhirnya membuang muka dan seperti berpura-pura melihat ke arah langit dari balkon rumahku, terlihat dia seperti menyembunyikan expresi wajahnya.

Sebenarnya kami sering membicarakan masa depan hubungan kami, tak terhitung berapa kali sudah kami membicarakannya. Saat ini aku sedikitpun tidak meragukan kesungguhannya dan keseriusannya kepadaku. Karena aku sudah sangat sering meragukan hal itu dan akhirnya saat kami bertemu selalu saja aku yakin kembali. Dan akhirnya pun aku memahami hanya karena mungkin belum waktunya kami menyatukan hati dalam ikatan pernikahan. Aku sudah sering sekali menanyakan kapan dia akan menjawab pertanyaan dunia tentang masa depan hubungan kami dengan tindakan yang nyata, tapi dia selalu punya alasan untuk mencoba membuatku tenang dan sabar menunggu.

Kami memang pasangan yang aneh, sebenarnya Aries pernah mengatakan kepadaku kalau dia sudah didorong keluarganya untuk segera melamarku, waktu itu rasanya aku senang sekali, saat itu kurasa sekitar setahun yang lalu. Tapi entah kenapa aku tiba-tiba memikirkan tentang keinginan melamarku itu karena terpaksa, sehingga aku memikirkan untuk mengetes kesungguhannya secara pribadi dengan memberikan syarat. Aku meminta dia untuk mencoba mencari pekerjaan tetap, memang aku tahu dia sudah berpenghasilan dari event-event yang di garap atau dilakoninya juga job-job manggung dari band nya. Tapi aku mengatakan aku akan siap dilamar setelah dia mendapatkan pekerjaan tetap.

Setahun berlalu setelah aku memberikan syarat itu atau sampai pada saat ini, dia belum mendapatkan pekerjaan meskipun dia mengatakan sudah mencoba melamar pekerjaan kesana-sini. Bukan aku tak percaya, karena beberapa kali aku yang membuatkan surat lamaran pekerjaannya, hanya saja aku meragukan usahanya. Waktu setahun dan dia pun masih terlihat nyaman dan menikmati hari-harinya hanya dengan bermusik dan cukup aktif di sosial media. Sampai pertemuan kami hari ini, dia hanya menjawab sekedarnya pertanyaanku tentang usahanya mencari pekerjaan. Perlu diketahui bahwa beberapa obrolan kami hari ini tak semua kusertakan dalam tulisan ini.

Sedikit penjelasan singkat ini aku rasa cukup untuk menjelaskan kenapa kami sampai saat ini belum menyatkan hati dalam ikatan yang sah. Aku sangat tahu menjalin hubungan jarak jauh selama tujuh tahun itu sangat berat, rasa rindu, curiga, juga kondisi emosional yang pasti akan sangat berbeda ketika sepasang kekasih berada di dua tempat yang berjauhan, dan beberapa hal yang sudah aku ceritakan sebelumnya. Dan kurasa hal terberat yang kulalui adalah saat ini, tepatnya dua bulan terakhir ini.

"Hal apa ay? bukannya kita baik-baik aja dua bulan terakhir ini?" Aries bertanya dan mencoba menjeda tulisanku.

Aku menoleh kearahnya, aku melihat wajahnya berkerut heran seolah penuh dengan pertanyaan. Aku tersenyum kepadanya dengan maksud mengingatkan akan janjinya bahwa tidak akan berbicara sebelum aku selesai menulis. Aku rasa dia akhirnya mengingatnya dan mencoba tenang dan diam walaupun dia tampak kecewa tidak mendapatkan jawaban atas pertanyaannya tadi. Seandainya mampu aku menjawabnya mungkin aku tak perlu menuliskannya, kuharap Aries bisa bersabar dan memahami kata demi kata yang akan aku tuliskan ketika kami mulai tak saling bicara sejak beberapa menit yang lalu.

Baca lanjutannya di Pamitkan dengan tulisan II